GONETENWS.COIM, Gorontalo — Hasil penelitian tidak boleh hanya berakhir di jurnal dan rak perpustakaan. Riset dituntut mampu menjawab persoalan masyarakat dan menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan publik.
Pesan itu mengemuka dalam Workshop Analisis Kebijakan Publik dan Knowledge to Policy yang digelar Yayasan BaKTI bersama KONEKSI, Minggu (13/09/2026).
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Ichsan Gorontalo Utara (UIGU), Nur Lazimatul Hilma Sholehah, dipercaya terlibat sebagai Focal Point dalam kegiatan tersebut bersama Hijrah Lahaling.
Peran tersebut menjadi bagian dari program penguatan kapasitas Jaringan Peneliti Indonesia Timur yang mendorong peneliti agar tidak sekadar produktif menghasilkan penelitian, tetapi juga mampu mengubah temuan riset menjadi pengetahuan dan rekomendasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan kebijakan.
Sebagai Focal Point, Nur Lazimatul Hilma dan Hijrah Lahaling berperan dalam memperkuat koordinasi, proses pembelajaran, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan jejaring antara peneliti dengan berbagai pemangku kepentingan.
Workshop tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat kemampuan peneliti dalam membaca persoalan publik secara lebih sistematis.
Peserta mendapatkan penguatan mengenai proses dan konstruksi kebijakan, pemetaan pemangku kepentingan, pengolahan bukti penelitian, hingga bagaimana menerjemahkan hasil riset menjadi rekomendasi yang relevan dan dapat digunakan oleh pengambil kebijakan.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik atau publikasi ilmiah, tetapi memiliki nilai guna dan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Yayasan BaKTI atau Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia merupakan organisasi yang berfokus pada pertukaran pengetahuan dan informasi untuk mendukung pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.
BaKTI selama ini turut memperkuat jejaring antara peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat sipil dan berbagai aktor pembangunan di kawasan tersebut.
Sementara KONEKSI merupakan program kemitraan pengetahuan dan inovasi Australia-Indonesia yang mendorong pemanfaatan pengetahuan serta hasil penelitian untuk mendukung kebijakan dan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kolaborasi BaKTI dan KONEKSI menjadi salah satu ruang strategis dalam memperkuat kapasitas sekaligus memperluas jejaring peneliti di Kawasan Timur Indonesia.
Keterlibatan Nur Lazimatul Hilma sebagai Focal Point sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan pembangunan.
Melalui penguatan kapasitas tersebut, para peneliti diharapkan mampu memastikan bahwa bukti dan pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian dapat masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan.
Dengan demikian, riset tidak hanya menjadi ukuran produktivitas akademik, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mendorong kebijakan publik yang lebih berbasis bukti, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat. (GN-RLS)










