GONETNEWS.COM, Bone Bolango – Lapangan Ippot, Kecamatan Tapa, berubah menjadi pusat keramaian warga saat Gebyar Ketupat Ketupat Ceria Berkah digelar. Masyarakat memadati lokasi kegiatan, dengan ribuan dodol dan ketupat turut mewarnai suasana perayaan, menandai bangkitnya kembali tradisi lomba rakyat yang sempat hilang dari perayaan pasca-Idulfitri.
Kegiatan selama dua hari itu diinisiasi Badan Takmirul dan remaja Masjid Besar Al Mutathahhiriin bersama warga, dengan dukungan utama Hendra Saputra Koniyo (HSK) yang mendorong kebangkitan tradisi lokal di Tapa.
HSK menegaskan, langkah tersebut bukan sekadar menghadirkan hiburan, melainkan upaya mengembalikan identitas budaya masyarakat yang mulai tergerus.
“Dulu Lapangan Likada selalu ramai lomba setiap Lebaran. Sekarang hampir tidak ada. Ini yang kami hidupkan kembali, supaya tradisi tidak hilang dan masyarakat punya ruang kebersamaan,” tegasnya, Jumat (27/03/2026).
Menurutnya, Gebyar Ketupat menjadi momentum strategis untuk memperkuat silaturahmi sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan yang mulai memudar.
Camat Tapa, Rahmat H. Helingo, menyebut inisiatif tersebut berdampak langsung, tidak hanya pada pelestarian budaya, tetapi juga pada pola pergerakan masyarakat saat perayaan hari ketupat.
“Selama ini perayaan terpusat di Reksonegoro, Tibawa, yang memicu kepadatan kendaraan. Kegiatan di Tapa ini mampu memecah konsentrasi sekaligus memberi alternatif hiburan bagi masyarakat,” ujarnya.
Sejumlah lomba tradisional yang sarat nilai kebersamaan menjadi daya tarik utama, mulai dari sepak bola dangdut, lomba lari berdasarkan kelompok usia, lari karung dan kelereng estafet, lompat tebak warna, kursi goyang, hingga tendangan penalti jarak jauh.
Antusiasme warga di Lapangan Ippot menjadi sinyal kuat bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Gebyar Ketupat Tapa pun tidak sekadar perayaan, tetapi menjadi penanda bahwa warisan lama bisa bangkit kembali ketika didorong dengan komitmen dan kepedulian. (GN-01)











