GONETNEWS.COM, Gorontalo — Reses masa persidangan ketiga Tahun 2025–2026 yang dilakukan Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan (Dapil) I Kota Gorontalo mengungkap sejumlah aspirasi masyarakat pasca penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026. Salah satu yang mencuat adalah penilaian warga terhadap logo resmi PENAS XVII yang dinilai belum merepresentasikan nelayan.
Aspirasi tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, dr. Sri Darsianti Tuna, saat melakukan kunjungan kerja bersama Anggota DPRD lain ke Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo dalam rangka reses, Selasa (30/06/2026).
Sri Darsianti mengatakan, masyarakat memberikan apresiasi atas keberhasilan Gorontalo menjadi tuan rumah PENAS XVII. Namun, di balik suksesnya penyelenggaraan ajang nasional tersebut, masih tersimpan catatan yang perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah.
“Secara umum masyarakat bangga karena Gorontalo sukses menjadi tuan rumah PENAS XVII. Tetapi dalam reses ini kami menerima aspirasi dari masyarakat, khususnya nelayan, yang menilai logo kegiatan belum mencerminkan identitas mereka. Yang terlihat hanya simbol jagung yang identik dengan petani,” katanya.
Menurutnya, masyarakat memahami bahwa PENAS merupakan singkatan dari Pekan Nasional Petani dan Nelayan. Karena itu, identitas visual kegiatan seharusnya mampu menggambarkan kedua sektor tersebut secara seimbang.
Ia mengatakan, aspirasi itu sengaja disampaikan kepada Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura agar menjadi bahan evaluasi dalam penyelenggaraan kegiatan serupa pada masa mendatang.
Dari hasil pertemuan, kata Sri Darsianti, pihak dinas menjelaskan bahwa logo PENAS XVII dipilih melalui mekanisme sayembara. Meski demikian, ia menilai hasil sayembara tetap perlu melalui pembahasan lintas sektor sebelum ditetapkan sebagai logo resmi.
“Kami memahami bahwa logo tersebut merupakan hasil sayembara. Namun, setelah ada pemenang, seharusnya tetap dilakukan koreksi dan pembahasan bersama dinas-dinas terkait, termasuk Dinas Kelautan dan Perikanan, karena kegiatan ini membawa nama petani dan nelayan,” ujarnya.
Menurut dia, pelibatan seluruh pemangku kepentingan penting dilakukan agar setiap simbol yang digunakan benar-benar mencerminkan tema kegiatan dan tidak menimbulkan persepsi adanya kelompok yang kurang mendapat perhatian.
“Ini memang sudah selesai dan PENAS juga berjalan sukses. Tetapi justru karena sudah selesai, evaluasi harus dilakukan agar ke depan tidak muncul lagi kecemburuan di tengah masyarakat akibat identitas kegiatan yang dianggap belum mewakili semua pihak,” katanya.
Selain persoalan logo, Sri Darsianti juga menyampaikan aspirasi masyarakat terkait keberlanjutan kawasan Gelar Teknologi Pertanian Modern Terintegrasi di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Menurutnya, masyarakat berharap kawasan yang dibangun untuk mendukung PENAS XVII tersebut tidak dibongkar, melainkan dipertahankan dan dikembangkan menjadi kawasan agrowisata pertanian.
“Kami berharap lokasi itu tetap dipelihara karena memiliki potensi menjadi pusat edukasi pertanian sekaligus destinasi agrowisata yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam reses tersebut, DPRD juga menyampaikan harapan masyarakat agar bibit-bibit unggul yang dipamerkan selama PENAS XVII dapat diakses oleh petani.
“Jangan sampai bibit unggul hanya dipamerkan selama kegiatan berlangsung, tetapi setelah itu sulit diperoleh masyarakat. Kami berharap dinas dapat menyediakan bibit-bibit tersebut sehingga manfaat PENAS benar-benar dirasakan petani,” kata Sri Darsianti.
Ia berharap seluruh aspirasi yang disampaikan masyarakat melalui reses dapat menjadi perhatian pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program pertanian maupun penyelenggaraan kegiatan nasional di masa mendatang. (GN-01)










