Penulis: Yasin (Wartawan Olahraga)
GONETNEWS.COM, Gorontalo – 9 September seharusnya bukan sekadar tanggal yang lewat di kalender olahraga.
Hari Olahraga Nasional (Haornas) mestinya menjadi momentum ketika atlet, pelatih, wasit, pembina, hingga seluruh insan olahraga berdiri di panggung kehormatan.
Hari untuk mengenang perjuangan.
Hari untuk menghargai pengorbanan.
Hari untuk merayakan prestasi.
Namun Haornas 2026 di Gorontalo justru terasa berjalan biasa saja.
Tidak ada kemeriahan yang berarti. Tidak terlihat panggung penghargaan bagi mereka yang selama ini berjuang mengharumkan nama daerah. Yang terdengar lebih banyak ucapan Haornas dari sejumlah tokoh melalui media sosial.
Pertanyaannya sederhana: memangnya sesulit itu memberikan penghargaan kepada mereka yang selama ini memberikan prestasi untuk Gorontalo?
Kita bisa memahami alasan efisiensi anggaran. Kondisi keuangan daerah memang menuntut banyak hal untuk disederhanakan.
Tetapi efisiensi anggaran jangan sampai diterjemahkan sebagai efisiensi penghargaan terhadap manusia-manusia yang telah mengorbankan waktu, tenaga dan masa mudanya demi nama Gorontalo.
Sebab atlet tidak selalu meminta uang.
Mereka ingin perjuangannya dilihat.
Pelatih ingin pengabdiannya dihargai.
Dan seluruh insan olahraga ingin tahu bahwa pemerintah daerah masih peduli terhadap masa depan mereka.
Mereka yang Membawa Nama Gorontalo
Coba kita lihat apa yang telah diberikan insan olahraga kepada daerah ini.
Gorontalo bukan daerah yang miskin talenta. Justru sebaliknya. Banyak atlet daerah ini mampu berbicara di tingkat nasional, bahkan internasional.
Sepak takraw adalah salah satu bukti paling nyata.
Dua dekade lalu, Gorontalo mungkin masih berada di bawah bayang-bayang daerah lain, termasuk Sulawesi Selatan. Tetapi hari ini kondisinya telah berubah.
Gorontalo telah menjelma menjadi salah satu kekuatan penting sepak takraw Indonesia.
Atlet-atletnya tampil di level nasional dan Asia. Pelatihnya dipercaya membina atlet di level lebih tinggi. Nama Gorontalo ikut terangkat bersama prestasi mereka.
Tetapi prestasi itu tidak lahir dari ruang ber-AC.
Ada latihan panjang.
Ada keringat.
Ada cedera.
Ada air mata.
Ada pengorbanan keluarga.
Ada biaya yang tidak sedikit.
Bahkan ada masa muda yang dikorbankan demi mengejar satu tujuan: membawa nama Gorontalo.
Bukan Hanya Sepak Takraw
Wajah olahraga Gorontalo tentu tidak berhenti pada sepak takraw.
Taekwondo dalam satu dekade terakhir menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Atlet-atlet Gorontalo mampu bersaing di PON, kejurnas, bahkan mendapat kepercayaan memperkuat tim nasional.
Karate juga menunjukkan potensi besar.
Ada atlet Gorontalo yang mampu menembus persaingan dunia di kelompok junior. Prestasi internasional telah diraih dan nama daerah ikut disebut di pentas global.
Belum lagi pencak silat, atletik, renang, tenis meja, menembak, anggar dan berbagai cabang olahraga lainnya.
Tidak semuanya mendapatkan sorotan.
Tidak semuanya masuk pemberitaan.
Tetapi mereka memiliki kesamaan: ketika bertanding, yang mereka bawa bukan hanya nama klub atau pribadi. Ada nama Gorontalo di dada mereka.
Lalu setelah mereka pulang membawa prestasi, apa yang kita berikan?
Itulah pertanyaan yang seharusnya dijawab pada Haornas tahun ini.
Prestasi Ada, Apresiasi Dipertanyakan
Gorontalo sebenarnya tidak kekurangan potensi olahraga.
Yang perlu dipertanyakan adalah apakah potensi tersebut sudah mendapatkan perhatian dan sistem pembinaan yang sepadan.
Lebih penting lagi, setelah seorang atlet menghasilkan prestasi, apakah daerah benar-benar memikirkan masa depannya?
Kita pernah memiliki cerita tentang atlet berprestasi yang mendapatkan apresiasi melalui program pemerintah, termasuk kesempatan menjadi aparatur sipil negara.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sebuah program.
Tetapi bagi atlet, itu bisa menjadi bentuk penghargaan negara atas pengorbanan yang telah diberikan.
Sebab karier seorang atlet memiliki batas.
Hari ini mereka berdiri di podium.
Hari ini mereka mengangkat medali.
Tetapi beberapa tahun kemudian, tubuh tidak lagi mampu mengikuti tuntutan kompetisi.
Lalu apa yang terjadi?
Mereka harus kembali memikirkan pekerjaan. Kehidupan keluarga. Masa depan.
Karena itu, penghargaan terhadap atlet tidak boleh berhenti ketika medali dikalungkan.
Jangan sampai daerah hanya membutuhkan atlet ketika mereka sedang menang.
Ketika kalah, dilupakan.
Ketika berjaya, dipuji.
Setelah itu, kembali berjalan sendiri.
Haornas Harus Menjadi Titik Balik
Mungkin Haornas tahun ini memang tidak dirayakan besar-besaran.
Mungkin keterbatasan anggaran membuat banyak kegiatan harus disederhanakan.
Tidak masalah.
Tetapi jangan sampai semangat olahraga ikut disederhanakan.
Justru Haornas 2026 seharusnya menjadi titik balik bagi Gorontalo untuk kembali menata olahraga secara lebih serius.
Bukan hanya bagaimana melahirkan juara.
Tetapi bagaimana memastikan atlet memiliki masa depan.
Bagaimana pelatih mendapatkan penghargaan yang layak.
Bagaimana wasit dan tenaga pendukung olahraga mendapatkan ruang.
Bagaimana pembinaan usia dini diperkuat.
Bagaimana fasilitas olahraga diperbaiki.
Dan bagaimana prestasi olahraga dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Sebab olahraga hari ini bukan sekadar persoalan menang dan kalah.
Olahraga adalah industri.
Olahraga bisa menjadi sport tourism.
Olahraga bisa membuka lapangan pekerjaan.
Olahraga bisa menggerakkan UMKM.
Olahraga bisa mendatangkan wisatawan.
Dan olahraga bisa menjadi alat diplomasi daerah untuk memperkenalkan Gorontalo kepada Indonesia bahkan dunia.
Jangan Hanya Sibuk Ketika Ada Medali
Sudah saatnya olahraga tidak dipandang sebagai kegiatan yang ramai hanya ketika ada pertandingan besar.
Jangan pemerintah baru sibuk ketika atlet pulang membawa medali emas.
Jangan baru memasang spanduk ketika atlet berhasil mengharumkan nama daerah.
Jangan baru berfoto ketika mereka berdiri di podium.
Sebab prestasi tidak muncul secara tiba-tiba.
Ada pembinaan bertahun-tahun di belakangnya.
Ada pelatih yang bekerja dalam diam.
Ada orang tua yang mengeluarkan biaya.
Ada atlet yang berkali-kali gagal sebelum akhirnya berhasil.
Dan ada organisasi olahraga yang terus berusaha menjaga pembinaan tetap berjalan.
Kalau mereka mampu membawa nama Gorontalo ke tingkat nasional dan internasional, maka sudah sewajarnya daerah memberikan perhatian yang serius.
Bukan hanya saat mereka menang.
Saatnya Bergandengan Tangan
Haornas 2026 jangan berhenti sebagai peringatan tahunan.
Jadikan 9 September sebagai start baru olahraga Gorontalo.
Pemerintah, KONI, federasi olahraga, klub, sekolah, dunia usaha, media dan masyarakat harus berjalan bersama.
Tidak perlu saling menyalahkan.
Tidak perlu sibuk mencari siapa yang paling berjasa.
Yang diperlukan adalah satu tujuan: membangun ekosistem olahraga Gorontalo yang sehat, berprestasi dan mampu memberikan masa depan bagi para pelakunya.
Sebab di balik setiap medali ada atlet yang berlatih.
Di balik setiap kemenangan ada pelatih yang membimbing.
Di balik setiap pertandingan ada wasit yang menjaga sportivitas.
Dan di balik setiap prestasi ada keluarga serta masyarakat yang memberikan dukungan.
Mereka mungkin tidak meminta panggung mewah.
Mereka mungkin tidak menuntut seremoni besar.
Tetapi pada hari yang seharusnya menjadi hari mereka, jangan biarkan perjuangan mereka berlalu begitu saja.
Sebab penghargaan bukan semata-mata soal nilai uang.
Penghargaan adalah pesan bahwa perjuangan mereka berarti.
Bahwa pengorbanan mereka dilihat.
Bahwa prestasi mereka tidak dilupakan.
Dan bahwa daerah masih memiliki tempat bagi mereka setelah sorak-sorai kemenangan berakhir.
Selamat Hari Olahraga Nasional ke-43.
9 September 2026.
Semoga Haornas tidak hanya menjadi tentang olahraga yang membuat masyarakat sehat dan bugar.
Tetapi juga tentang bagaimana olahraga mampu membuat atlet sejahtera, pelatih dihargai, ekonomi rakyat bergerak, sport tourism berkembang, dan nama Gorontalo semakin tinggi di pentas nasional maupun dunia.
Karena pada akhirnya, 9 September memang seharusnya menjadi hari mereka—para pejuang olahraga Gorontalo. (GN-RLS)










