Bitule Jadi Pilihan Terakhir, Warga Huntu Bertahan di Tengah Kemarau

Bitule Jadi Pilihan Terakhir, Warga Huntu Bertahan di Tengah Kemarau
banner 468x60

GONETNEWS.COM, Kabgor — Selama dua bulan, keluarga Astin Meluko di Desa Huntu, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, terpaksa mengonsumsi bitule atau ubi hutan liar yang mengandung racun. Pilihan pahit itu dilakukan untuk menghemat biaya makan di tengah kemarau panjang yang membuat kebun mereka gagal panen.

Astin mengatakan, mengonsumsi bitule bukan karena menjadi pilihan makanan keluarga, melainkan karena kondisi ekonomi yang semakin sulit. Hasil kebun rica dan jagung yang selama ini menjadi sumber pangan dan penghasilan tidak lagi bisa diandalkan akibat kemarau berkepanjangan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Sudah sekitar dua bulan kami makan bitule. Ini pilihan terakhir untuk mengurangi biaya makan sehari-hari,” kata Astin.

Untuk menghemat pengeluaran, Astin bersama suaminya mengonsumsi bitule yang dicampur kelapa parut. Sementara anak-anak mereka yang masih duduk di bangku SD dan SMP tetap diberikan nasi karena tidak menyukai makanan dari ubi hutan tersebut.

“Anak-anak tidak suka makan bitule, jadi mereka tetap kami kasih nasi. Saya dan suami yang makan bitule supaya bisa menghemat pengeluaran,” ujarnya.

Bitule yang dikonsumsi keluarga Astin tidak diperoleh dengan mudah. Suami dan ayah Astin harus mencarinya hingga ke kawasan pegunungan yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah.

Medan yang harus ditempuh juga cukup berbahaya. Bitule tumbuh di tanah yang miring dan terjal, bukan di lahan datar, sehingga proses mengambilnya membutuhkan kehati-hatian.

Setelah berhasil dibawa pulang, ubi tersebut juga tidak bisa langsung dikonsumsi. Astin mengatakan bitule harus melalui sejumlah proses pengolahan selama sekitar tiga hari untuk menghilangkan kandungan racunnya sebelum dimasak dan dimakan.

Selama dua bulan terakhir, keluarga tersebut harus menjalani pola hidup demikian. Ketika hasil kebun tidak lagi mencukupi, suami dan ayah Astin naik gunung mencari bitule agar kebutuhan pangan keluarga tetap bisa dipenuhi.

Kondisi itu menjadi gambaran beratnya dampak kemarau panjang terhadap warga yang menggantungkan hidup dari pertanian. Bukan hanya tanaman yang gagal tumbuh, tetapi pilihan pangan keluarga pun semakin terbatas.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan Pemerintah Provinsi Gorontalo yang disalurkan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail pada Jumat (11/09/2026) menjadi harapan bagi warga Desa Huntu.

Astin mengatakan bantuan tersebut sangat membantu meringankan beban keluarganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi keluarga Astin, dua bulan mengonsumsi bitule menunjukkan bahwa kemarau telah jauh melampaui persoalan kekeringan. Ketika warga harus naik gunung mencari ubi hutan beracun agar pengeluaran makan bisa ditekan, dampak kemarau sudah sampai ke meja makan keluarga. (GN-01)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *