GONETNEWS.COM, Gorut — Rektor Universitas Ichsan Gorontalo Utara (UIGU) Fatmah M. Ngabito menyebut kepercayaan kepada Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIGU, Nur Lazimatul Hilma Sholehah, sebagai Focal Point dalam program BaKTI–KONEKSI dan Jaringan Peneliti Indonesia Timur menjadi momentum penting bagi penguatan ekosistem penelitian di kampus tersebut.
Fatmah menilai keterlibatan tersebut tidak boleh hanya dimaknai sebagai pencapaian personal, tetapi harus menjadi pintu masuk bagi UIGU untuk memperluas jejaring, meningkatkan kapasitas peneliti, serta memperkuat posisi perguruan tinggi dalam mendorong pembangunan daerah berbasis pengetahuan.
“Kami memberikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Ketua LPPM UIGU untuk mengambil bagian sebagai Focal Point. Ini bukan hanya menjadi ruang pengembangan kapasitas individu, tetapi juga menjadi kesempatan bagi institusi untuk memperluas jejaring, meningkatkan kualitas penelitian, dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah,” ujar Fatmah M. Ngabito, Minggu (13/09/2026).
Menurut dia, jejaring yang terbentuk melalui program tersebut membuka peluang lebih besar bagi dosen dan peneliti UIGU untuk terhubung dengan peneliti dari berbagai perguruan tinggi, lembaga pembangunan, pemerintah, maupun mitra strategis di Kawasan Timur Indonesia.
Fatmah menegaskan peluang tersebut harus dimanfaatkan untuk membawa UIGU keluar dari pola penelitian yang hanya berorientasi pada luaran akademik.
Ia berharap pengalaman dan jejaring yang diperoleh Ketua LPPM dapat ditransformasikan ke lingkungan kampus sehingga manfaatnya tidak berhenti pada individu, tetapi berkembang menjadi kekuatan kelembagaan.
“Harapannya, pengalaman dan jejaring yang diperoleh melalui program ini dapat ditransformasikan ke lingkungan UIGU, sehingga semakin banyak dosen dan peneliti yang mampu menghasilkan penelitian berkualitas sekaligus memiliki relevansi terhadap kebutuhan masyarakat dan pemerintah,” katanya.
Fatmah memandang keterhubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan jaringan peneliti menjadi semakin penting. Sebab, berbagai persoalan pembangunan daerah membutuhkan dukungan pengetahuan dan bukti ilmiah agar kebijakan yang dihasilkan tidak sekadar berdasarkan asumsi.
Sejalan dengan itu, Ketua LPPM UIGU Nur Lazimatul Hilma Sholehah menilai pendekatan Knowledge to Policy menjadi tantangan penting bagi dunia perguruan tinggi.
Menurut dia, penelitian tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Temuan penelitian harus dapat diterjemahkan menjadi pengetahuan yang mudah dipahami dan relevan bagi pengambil kebijakan.
“Penelitian tidak cukup hanya berakhir pada publikasi ilmiah. Tantangan kita adalah bagaimana hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi pengetahuan yang mudah dipahami, masuk ke ruang kebijakan, dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, kemampuan Knowledge to Policy menjadi sangat penting bagi peneliti,” ungkapnya.
Keterlibatan Nur Lazimatul Hilma Sholehah bersama Hijrah Lahaling sebagai Focal Point diharapkan semakin memperkuat keterhubungan peneliti Gorontalo dengan Jaringan Peneliti Indonesia Timur.
Bagi UIGU, jejaring tersebut bukan sekadar ruang bertukar pengetahuan. Lebih jauh, jaringan itu diharapkan menjadi jembatan untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan pemerintah dan masyarakat.
Dengan demikian, penelitian yang lahir dari lingkungan kampus dapat memiliki peluang lebih besar untuk digunakan dalam perencanaan pembangunan, penyusunan program, hingga pengambilan kebijakan publik.
Fatmah menegaskan, keterlibatan UIGU dalam program BaKTI–KONEKSI dan Jaringan Peneliti Indonesia Timur menjadi bagian dari upaya universitas membangun tradisi penelitian yang lebih berdampak.
Kampus, kata dia, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi. Perguruan tinggi juga dituntut menghadirkan pengetahuan yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Momentum tersebut sekaligus memperkuat komitmen UIGU untuk membangun ekosistem penelitian yang lebih terbuka terhadap kolaborasi, memperluas jejaring, dan mendorong lahirnya riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi pembangunan daerah. (GN-RLS)










