GONETNEWS.COM, Kota Gorontalo – Ada makna yang tersimpan di balik bentuk bulat kue bulan yang menjadi ikon Mooncake Festival. Bukan sekadar bentuk, bulatnya kue tersebut ternyata menjadi simbol kesempurnaan dan persatuan keluarga.
Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, saat membuka secara resmi Mooncake Festival atau Festival Kue Bulan yang digelar etnis Tionghoa di sepanjang jalan kompleks Klenteng Tulus Harapan Kita, Kota Gorontalo, Jumat (25/09/2026).
Indra mengatakan, Festival Kue Bulan merupakan tradisi masyarakat Tionghoa yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 15 bulan kedelapan berdasarkan penanggalan kalender lunar atau Imlek.
Menurutnya, festival tersebut memiliki makna yang erat dengan kehidupan keluarga dan hubungan antarmanusia.
“Festival Kue Bulan menceritakan tentang keluarga, cinta, pertemanan dan persahabatan,” kata Indra.
Ia menjelaskan, bentuk bulat pada kue bulan melambangkan kesempurnaan sekaligus persatuan keluarga yang utuh.
Makna tersebut tetap berlaku meskipun anggota keluarga berada di tempat yang berbeda dan terpisah oleh jarak.
“Bentuk bulat melambangkan kesempurnaan dan persatuan keluarga yang utuh meskipun anggota keluarga terpisah jarak, karena dimana kita berada tetap melihat bulan,” ujarnya.
Indra menilai, nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut juga sejalan dengan kehidupan masyarakat Kota Gorontalo yang memiliki keberagaman budaya.
Mooncake Festival tidak hanya menjadi ruang untuk mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan antarmasyarakat.
Yang menarik, festival tersebut tidak hanya menyajikan kue khas masyarakat Tionghoa.
Sejumlah produk UMKM lokal turut hadir meramaikan kegiatan. Produk-produk tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan hasil produksinya kepada masyarakat.
Indra menyebut produk UMKM yang hadir dalam festival tersebut juga mengedepankan produk yang halal sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas.
Dengan demikian, Mooncake Festival tidak hanya menghadirkan tradisi budaya Tionghoa, tetapi juga mempertemukan unsur budaya, kebersamaan dan aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu ruang.
Perayaan tersebut menjadi gambaran bahwa keberagaman budaya dapat menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan di Kota Gorontalo.










