Rumput Laut Jadi Andalan Sejak 1980-an, Ridwan Diminta Perjuangkan Nasib Pembudidaya Ilodulunga

Rumput Laut Jadi Andalan Sejak 1980-an, Ridwan Diminta Perjuangkan Nasib Pembudidaya Ilodulunga
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan (Dapil) V Gorontalo Utara, Ridwan Monoarfa, dalam kegiatan reses tatap muka di Desa Ilodulunga, Rabu (04/11/2026).

GONETNEWS.COM, Gorut – Sudah puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat, budidaya rumput laut di Desa Ilodulunga, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, masih dihadapkan pada persoalan keterbatasan bibit, minimnya sarana produksi dan ketidakpastian harga jual. Ironisnya, potensi kawasan pesisir sekitar 150 hektare belum mampu dikembangkan secara maksimal akibat keterbatasan dukungan terhadap para pembudidaya.

Persoalan tersebut disampaikan masyarakat kepada Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan (Dapil) V Gorontalo Utara, Ridwan Monoarfa, dalam kegiatan reses tatap muka di Desa Ilodulunga, Rabu (04/11/2026). Pertemuan itu turut dihadiri pemerintah desa.

Bacaan Lainnya

Salah seorang warga, Kasmat Lahat, mengungkapkan bahwa keterbatasan bibit dan persoalan pemasaran masih menjadi kendala utama yang dihadapi pembudidaya. Selain sulit mendapatkan bibit, harga jual rumput laut juga kerap tidak stabil dan dinilai dipengaruhi permainan tengkulak.

“Kami berharap ada perhatian pemerintah untuk pembudidaya rumput laut. Bibit masih terbatas, sementara harga jual juga tidak menentu. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat,” ungkap Kasmat.

Menurutnya, perhatian pemerintah tidak cukup hanya melalui bantuan bibit. Diperlukan pula solusi terhadap persoalan pemasaran agar pembudidaya memiliki kepastian harga dan tidak terus bergantung pada tengkulak.

Aspirasi lainnya disampaikan Yusni. Ia mengatakan, masyarakat membutuhkan bantuan sarana produksi untuk meningkatkan aktivitas budidaya, mulai dari bibit, tali bentangan, pelampung hingga tempat penjemuran.

Pembudidaya juga membutuhkan mesin katinting dan perahu untuk menunjang aktivitas di kawasan pesisir.

“Kami membutuhkan bantuan yang benar-benar menunjang pekerjaan pembudidaya. Bukan hanya bibit, tetapi juga tali bentangan, pelampung, tempat penjemuran, termasuk katinting dan perahu,” kata Yusni.

Ia berharap kebutuhan tersebut dapat diperjuangkan melalui program pemerintah sehingga potensi pesisir Ilodulunga seluas kurang lebih 150 hektare bisa dimanfaatkan secara optimal.

Tak hanya budidaya, masyarakat juga meminta dukungan terhadap pengembangan produk olahan rumput laut.

Selvi Mouto, anggota kelompok pembibitan dan pengolahan rumput laut, menyampaikan bahwa kelompoknya telah menghasilkan berbagai produk, seperti keripik, stik hingga dodol berbahan dasar rumput laut.

Namun, keterbatasan modal, peralatan produksi dan akses pemasaran masih menjadi penghambat pengembangan usaha mereka.

“Kami sudah berusaha mengembangkan rumput laut menjadi berbagai produk olahan. Harapan kami ada bantuan peralatan, modal usaha dan dukungan pemasaran supaya produk yang dihasilkan kelompok bisa berkembang dan memiliki pasar yang lebih luas,” ujar Selvi.

Menurutnya, pengolahan rumput laut berpeluang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Dengan dukungan yang memadai, warga tidak hanya bergantung pada penjualan rumput laut mentah, tetapi juga dapat memperoleh pendapatan dari produk olahan.

Selain sektor rumput laut, masyarakat turut meminta perhatian terhadap kerusakan tanggul dan jembatan di Desa Ilodulunga. Kasmat Lahat mengungkapkan, sebagian infrastruktur tersebut bahkan telah roboh dan menyebabkan banjir hingga setinggi pinggang orang dewasa ketika musim hujan.

Warga juga mengeluhkan keterbatasan air bersih yang semakin terasa saat kemarau berkepanjangan. Mereka berharap pemerintah menyediakan sarana air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sementara di sektor pertanian, masyarakat mengusulkan bantuan bibit jagung guna mendukung aktivitas pertanian warga.

Berbagai aspirasi tersebut menjadi catatan penting bagi Ridwan Monoarfa untuk diperjuangkan dalam pembahasan program pembangunan di tingkat Provinsi Gorontalo. Terutama pengembangan sektor rumput laut yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir.

Warga berharap aspirasi yang disampaikan dalam reses tersebut tidak berhenti sebatas pendataan kebutuhan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui program konkret, mulai dari bantuan sarana budidaya, penguatan kelompok pengolahan hingga pembenahan akses pemasaran.

Bagi masyarakat Ilodulunga, rumput laut bukan sekadar komoditas perikanan. Usaha yang telah diwariskan sejak 1980-an itu merupakan sumber penghidupan keluarga yang membutuhkan dukungan agar tetap bertahan dan mampu meningkatkan kesejahteraan pembudidaya. (GN-01)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *