GONETNEWS.COM, Gorontalo – Ketua Asosiasi Perkumpulan Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (Pejagindo) Perwakilan Gorontalo, Jasin Mohammad, membeberkan perkembangan volume dan nilai perdagangan jagung di Provinsi Gorontalo hingga Oktober 2026 dalam kegiatan Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Kamis (05/11/2026).
Dalam pemaparannya, Jasin mengungkapkan bahwa volume perdagangan jagung Gorontalo sepanjang 2026 mengalami penurunan dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Meski demikian, nilai transaksi komoditas tersebut masih mendekati realisasi perdagangan sepanjang 2025.
Berdasarkan data Pejagindo, perdagangan jagung Gorontalo sepanjang 2025 mencapai 521.662 ton dengan nilai transaksi sebesar Rp2,869 triliun.
Sementara hingga Oktober 2026, volume perdagangan tercatat sebanyak 360.366.500 kilogram atau sekitar 360.366,5 ton, dengan nilai transaksi mencapai Rp2,805 triliun.
Jasin menjelaskan, penurunan volume perdagangan tersebut dipengaruhi kondisi cuaca, terutama musim kemarau yang berlangsung hampir lima bulan sehingga berdampak terhadap produksi dan ketersediaan pasokan jagung di tingkat petani.
“Kalau dilihat perbandingan 2026, perdagangannya memang turun karena mungkin musim kemarau, lima bulan lagi kemarau. Tetapi nilai transaksinya hampir mendekati tahun 2025,” ujar Jasin.
Ia menambahkan, kondisi perdagangan jagung saat ini dihadapkan pada meningkatnya kebutuhan pasar, sementara produksi di daerah belum sepenuhnya pulih. Kebutuhan industri pakan ternak atau feed mill, khususnya di Manado, diperkirakan meningkat menjelang Desember 2026.
Situasi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan harga jagung hingga akhir tahun, terlebih pasokan dari Gorontalo masih terbatas akibat dampak kemarau.
“Perkiraan kami sampai dengan Desember itu akan naik. Sebab, di bulan Desember, feed mill, terutama di Manado, juga banyak membutuhkan komoditas jagung. Tetapi di satu sisi produksi kita masih kurang,” ungkapnya.
Untuk harga pembelian di tingkat petani, Jasin menyebut saat ini berada pada kisaran Rp7.200 hingga Rp7.300 per kilogram untuk jagung dengan kadar air rata-rata 16 persen. Sementara jagung dengan kadar air 14 persen dapat mencapai Rp7.400 per kilogram.
“Rata-rata yang kami beli di tingkat petani di Rp7.200 sampai dengan Rp7.300. Kalau paling kering itu sampai dengan Rp7.400 per kilogram, kadar air 14 persen,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Jasin berharap musim hujan mulai merata pada November 2026 sehingga petani dapat kembali melakukan penanaman. Menurutnya, dukungan cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat pemulihan produksi jagung Gorontalo.
Jika musim tanam berjalan baik, peningkatan produksi diperkirakan mulai terlihat pada Maret hingga April 2027.
“Mudah-mudahan di bulan November ini sudah musim hujan dan para petani bisa menanam. Nanti di bulan Maret-April produksi jagung insyaallah akan begitu banyak,” katanya.
Jasin optimistis peningkatan produksi pada 2027 dapat memperkuat kembali perdagangan jagung Gorontalo sekaligus menjaga kemampuan daerah dalam memenuhi kebutuhan pasar, termasuk permintaan industri pakan ternak di wilayah sekitar. (GN-01)







