MT Nurul Huda Tak Mau Hanya Jadi Tempat Mengaji, Tiga Inovasi Diluncurkan

MT Nurul Huda Tak Mau Hanya Jadi Tempat Mengaji, Tiga Inovasi Diluncurkan
Majelis Taklim (MT) Nurul Huda, Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, menggelar Rapat Kerja.

GONETNEWS.COM, Kota Gorontalo – Majelis taklim tidak cukup hanya menjadi tempat mengaji, tetapi juga harus mampu membuka jalan bagi pemberdayaan ekonomi anggotanya. Semangat itulah yang dibangun Majelis Taklim (MT) Nurul Huda, Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, melalui peluncuran tiga program inovasi yang menyasar bidang keagamaan, lingkungan, dan pengembangan usaha.

Belum sebulan dikukuhkan pada 2 Oktober 2026, MT Nurul Huda langsung menggelar rapat kerja perdana di Hotel New Rahmat, Kota Gorontalo, Minggu (25/10/2026). Langkah ini menjadi awal bagi pengurus untuk menerjemahkan keberadaan organisasi ke dalam program yang diharapkan memberikan manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Rapat kerja tersebut dihadiri Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Indriani Dunda, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Gorontalo, Misnawaty S. Nuna, Camat Dungingi, Lurah Huangobotu, Ketua Badan Takmirul Masjid Dirtan Hunowu, serta tokoh masyarakat.

Ketua MT Nurul Huda, Nansi Zakaria, menjelaskan rapat kerja tersebut bertujuan menyatukan visi, menyelaraskan pemahaman, serta merumuskan arah dan langkah organisasi agar seluruh pengurus dan anggota bergerak menuju tujuan yang sama.

“Rapat kerja ini menjadi langkah awal untuk menyatukan visi dan komitmen seluruh pengurus serta anggota. Kami ingin MT Nurul Huda tidak hanya aktif dalam kegiatan pengajian, tetapi juga memiliki program nyata di bidang keagamaan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan secara berkelanjutan,” ujar Nansi.

Selain menyempurnakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), rapat kerja membahas perumusan dan penetapan program kerja enam bidang serta penguatan komitmen bersama dalam menjalankan program inovasi.

Tiga program yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut adalah Gema Magrib, Berkah Alam, dan BISA. Ketiganya secara resmi diluncurkan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Gorontalo, Misnawaty S. Nuna.

Program pertama, Gema Magrib (Gerakan Salat Magrib dan Subuh Berjamaah, Buat Hati Tenang), diarahkan untuk meningkatkan kesadaran beribadah sekaligus menghidupkan masjid melalui salat berjamaah.

Misnawaty berharap gerakan tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan masyarakat, dengan partisipasi jamaah yang semakin meningkat, sebagaimana ramainya pelaksanaan salat Jumat dan salat Idulfitri.

“Kami berharap tiga program inovasi MT Nurul Huda ini dapat menjadi contoh bagi majelis taklim lainnya. Yang terpenting, program ini jangan berhenti pada peluncuran atau kegiatan seremonial, tetapi harus dijalankan secara konsisten agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ucap Misnawaty.

Program kedua, Berkah Alam (Bersama Kita Aktif Hijaukan Alam dan Lingkungan Anggota Majelis Taklim), mendorong anggota untuk mengambil bagian dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara itu, program ketiga, BISA (Belajar Inovasi Skill dan Apresiasi Bisnis), menjadi salah satu program yang berkaitan langsung dengan peningkatan keterampilan dan pengembangan usaha anggota.

Melalui program ini, majelis taklim diharapkan tidak hanya menjadi ruang pembelajaran agama, tetapi juga tempat anggota mengembangkan kemampuan, mengenali peluang usaha, dan meningkatkan pendapatan keluarga.

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Indriani Dunda, mengapresiasi langkah cepat pengurus MT Nurul Huda yang langsung menggelar rapat kerja setelah memperoleh Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Kementerian Agama Kota Gorontalo.

MT Nurul Huda merupakan satu dari 14 majelis taklim yang menjadi binaan Indriani. Ia mendorong agar pembinaan majelis taklim tidak hanya berfokus pada aktivitas keagamaan, tetapi juga menyentuh kebutuhan pemberdayaan ekonomi anggota.

“Saya ingin majelis taklim tidak hanya menjadi tempat mengaji, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan perempuan. Anggota harus diberi ruang untuk belajar keterampilan, membangun usaha, dan memperoleh penghasilan. Harapannya, mereka tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi juga mampu berbagi dan membantu masyarakat yang membutuhkan,” kata Indriani.

Dorongan tersebut menempatkan pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan majelis taklim. Anggota diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu mengembangkan usaha dan berkontribusi membantu masyarakat yang membutuhkan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan secara simbolis kartu tanda anggota (KTA) dan KTA kehormatan. Kegiatan juga diisi dengan pemaparan Misnawaty S. Nuna mengenai kebijakan Kementerian Agama dalam peningkatan peran majelis taklim, serta materi dari Indriani Dunda tentang Pemberdayaan Majelis Taklim melalui Bina Usaha Kecil dan Menengah.

Peluncuran tiga inovasi tersebut menjadi langkah awal MT Nurul Huda memperluas peran organisasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan Gema Magrib mampu meningkatkan partisipasi jamaah, Berkah Alam melahirkan aksi nyata menjaga lingkungan, dan BISA membuka peluang keterampilan serta usaha bagi anggota.

Sebab, keberhasilan sebuah majelis taklim tidak hanya diukur dari aktivitas pengajiannya, tetapi juga dari kemampuannya membangun kepedulian sosial dan meningkatkan kemandirian anggotanya. (GN-01)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *