Ridwan Monoarfa: Jangan Puas Kemiskinan Turun, Warga Gorontalo Harus Naik Kelas

Ridwan Monoarfa: Jangan Puas Kemiskinan Turun, Warga Gorontalo Harus Naik Kelas
Wakil Ketua I DPRD Provinsi Gorontalo, Ridwan Monoarfa

GONETNEWS.COM, Puncak Botu — Wakil Ketua I DPRD Provinsi Gorontalo, Ridwan Monoarfa, mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari turunnya angka kemiskinan atau meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah masyarakat benar-benar memiliki penghasilan stabil, mampu menabung, dan tidak mudah jatuh miskin ketika menghadapi tekanan ekonomi.

Dalam keterangannya pada Senin (12/10/2026), Ridwan menilai penyusutan kelas menengah nasional merupakan alarm sosial yang perlu menjadi perhatian Gorontalo. Persoalannya bukan sekadar berkurangnya kemampuan berbelanja, tetapi juga melemahnya rasa aman dan keyakinan masyarakat terhadap masa depan.

Bacaan Lainnya

“Ketika kelompok ini melemah, yang terancam bukan hanya daya beli, melainkan juga optimisme kolektif tentang masa depan,” ujarnya.

Menurut Ridwan, Gorontalo membutuhkan kelas menengah yang kuat agar pertumbuhan ekonomi tidak berdiri di atas fondasi yang rapuh. Ia menyoroti keluarga yang sudah keluar dari garis kemiskinan, tetapi belum memiliki ketahanan keuangan yang memadai.

Bagi keluarga tersebut, kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, atau gangguan kesehatan dapat menggerus penghasilan dan mendorong mereka kembali mengalami kesulitan ekonomi.

“Pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada menurunkan angka kemiskinan. Target yang lebih tinggi adalah memperbesar jumlah warga yang naik menjadi kelas menengah produktif,” tegasnya.

Ridwan mengapresiasi pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi mengingatkan bahwa ketergantungan besar pada konsumsi rumah tangga menyimpan kerentanan. Ketika masyarakat menahan belanja karena pendapatannya tidak pasti, perdagangan dan jasa ikut terdampak.

“Saat kelas menengah percaya diri, ekonomi daerah ikut bergerak. Namun ketika mereka menahan konsumsi akibat ketidakpastian pendapatan, perlambatan segera terasa di pusat-pusat perdagangan dan jasa,” katanya.

Karena itu, menurut Ridwan, pertumbuhan harus ditopang perluasan kegiatan produksi bernilai tambah tinggi. Pembangunan tidak boleh berhenti pada perputaran belanja, tetapi perlu menghasilkan pekerjaan dan pendapatan yang lebih stabil.

Ia menyebut aparatur sipil negara, guru, dosen, tenaga kesehatan, pedagang, pelaku UMKM, petani produktif, profesional muda, dan wirausaha lokal sebagai kelompok yang berperan menjaga denyut ekonomi Gorontalo.

Ketahanan ekonomi kelompok tersebut, menurutnya, berkaitan langsung dengan keberlangsungan pasar lokal dan peluang usaha masyarakat.

Untuk memperbesar kelas menengah produktif, Ridwan mendorong hilirisasi komoditas unggulan. Jagung, kelapa, kakao, hasil perikanan, dan peternakan perlu diolah lebih jauh di Gorontalo agar manfaat ekonominya tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.

“Gorontalo tidak boleh terus terjebak sebagai pemasok bahan mentah,” ujarnya.

Pengolahan di dalam daerah, menurutnya, dapat memperbesar pendapatan lokal, membuka lapangan kerja formal, dan menciptakan peluang bagi masyarakat untuk naik kelas.

Ia juga menekankan perlunya mendorong UMKM keluar dari keterbatasan skala usaha informal. Dukungan harus mencakup akses pembiayaan, digitalisasi, pendampingan manajemen, dan kepastian pasar agar usaha kecil memiliki ruang untuk berkembang.

Di sisi lain, peningkatan kualitas manusia harus mendapat perhatian yang setara dengan pembangunan fisik. Ridwan menilai pendidikan berkualitas, keterampilan kerja yang relevan, literasi digital, dan jejaring usaha menentukan kemampuan warga memanfaatkan peluang ekonomi.

“Jalan dan gedung perlu, tetapi manusia unggul jauh lebih menentukan,” tuturnya.

Ridwan turut mengingatkan pentingnya menjaga daya beli melalui stabilitas pasokan pangan, distribusi yang efisien, dan perlindungan sosial tepat sasaran. Menurutnya, lonjakan harga kebutuhan pokok dapat melemahkan keluarga yang kondisi ekonominya belum mapan.

Ia menegaskan, besarnya APBD dan tingginya pertumbuhan ekonomi bukan ukuran tunggal keberhasilan daerah. Pembangunan harus terlihat dalam kehidupan keluarga: penghasilan yang lebih pasti, kemampuan menyisihkan tabungan, pendidikan yang lebih baik, serta ketahanan menghadapi kebutuhan mendadak.

“Masa depan daerah ini ditentukan oleh seberapa banyak warganya yang berhasil naik kelas—hidup layak, produktif, dan percaya diri menatap masa depan,” katanya.

“Sebab daerah maju bukan semata daerah yang kaya anggaran, melainkan daerah yang berhasil memperbesar kelas menengahnya,” tutupnya. (GN-RLS)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *