GONETNEWS.COM, Surabaya — Penghargaan kepada almarhum Thayeb Mohammad Gobel sebagai Pelopor Penggerak Ekonomi tidak boleh berhenti sebagai penghormatan, tetapi harus menjadi pemantik untuk melanjutkan perjuangan membangun kemandirian ekonomi rakyat.
Pesan itu ditegaskan Pimpinan Wilayah Syarikat Islam Provinsi Gorontalo, Ridwan Monoarfa, setelah mewakili keluarga besar Gobel menerima SI-Anugerah kategori Pelopor Penggerak Ekonomi dalam Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Surabaya, 18–20 Oktober 2026.
Menurut Ridwan, penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas kiprah Thayeb Mohammad Gobel dalam mengembangkan ekonomi yang memberikan dampak bagi perekonomian nasional. Namun, nilai terpenting dari penghargaan itu adalah bagaimana semangat perjuangannya dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Warisan para pelopor tidak cukup hanya dikenang melalui penghargaan. Semangat dan nilai perjuangannya harus diteruskan melalui penguatan usaha, penciptaan lapangan kerja, pengembangan koperasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Ridwan.
Ia menegaskan, kemandirian ekonomi merupakan bagian penting dari cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan politik, tetapi juga harus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bekerja, mengembangkan usaha, dan menentukan masa depan ekonominya sendiri.
Ridwan menilai, pesan tersebut sejalan dengan cita-cita Syarikat Islam yang sejak awal menempatkan kebangkitan ekonomi rakyat sebagai bagian dari perjuangan nasional.
Semangat itu berakar pada perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto dan tradisi Sarekat Dagang Islam, yang menumbuhkan kesadaran bahwa kemerdekaan politik harus ditopang oleh kemampuan ekonomi masyarakat untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri.
Dalam konteks Gorontalo, Ridwan menyebut Thayeb Mohammad Gobel, Rachmat Gobel, dan Suharso Monoarfa sebagai tiga tokoh nasional yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan dan semangat perjuangan ekonomi.
Kiprah mereka, menurutnya, menjadi pengingat bahwa pengembangan ekonomi bukan sekadar urusan bisnis, melainkan juga dapat menjadi jalan pengabdian kepada masyarakat dan pembangunan bangsa.
Ridwan mengungkapkan, keterlibatannya di Syarikat Islam berawal dari rekomendasi almarhum Rachmat Gobel. Karena itu, kesempatan menghadiri kongres sekaligus menerima penghargaan untuk keluarga Gobel memiliki makna personal baginya.
Momentum tersebut juga mengingatkannya pada tanggung jawab untuk meneruskan semangat perjuangan ekonomi para pendahulu melalui gerakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi Ridwan, penghargaan kepada Thayeb harus menjadi inspirasi untuk memperkuat usaha rakyat, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong tumbuhnya kekuatan ekonomi masyarakat dari tingkat desa hingga nasional.
Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 turut menetapkan Dr. Ferry Juliantono sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam periode 2026–2031 dan Dr. Hamdan Zoelva sebagai Ketua Dewan Syuro Pusat Syarikat Islam.
Ridwan berharap kepemimpinan baru tersebut mampu memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menjadikan gerakan ekonomi sebagai agenda nyata Syarikat Islam di seluruh Indonesia.
Ia menilai pengalaman Ferry Juliantono dalam bidang perkoperasian dapat menjadi peluang untuk memperkuat sinergi antara Syarikat Islam dan gerakan koperasi nasional.
Menurut Ridwan, koperasi harus tumbuh dari akar rumput dengan menghimpun kekuatan anggota, memperluas akses permodalan, memperkuat posisi tawar pelaku usaha kecil, serta membuka akses pasar.
Koperasi, katanya, tidak boleh sekadar menjadi badan usaha formal, tetapi harus menjadi instrumen gotong royong yang membantu masyarakat membangun kekuatan ekonomi secara bersama-sama.
Ia menambahkan, dakwah ekonomi perlu diterjemahkan ke dalam program konkret, mulai dari penguatan saudagar, pengembangan koperasi, pemberdayaan ekonomi desa, hingga pembukaan kesempatan usaha dan lapangan kerja.
Menurutnya, keberhasilan gerakan ekonomi tidak cukup diukur dari besarnya organisasi atau banyaknya kegiatan, tetapi dari sejauh mana masyarakat memperoleh manfaat dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraannya.
“Dakwah ekonomi adalah jalan menuju kemerdekaan sejati. Ukuran keberhasilannya bukan hanya besarnya organisasi atau banyaknya kegiatan, tetapi sejauh mana gerakan ini mampu memperkuat kemandirian umat, menciptakan kesempatan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Ridwan.
Ia berharap SI-Anugerah untuk Thayeb Mohammad Gobel menjadi pengingat bagi generasi penerus Syarikat Islam bahwa perjuangan ekonomi tidak boleh berhenti pada penghormatan terhadap masa lalu.
Warisan para pelopor, kata Ridwan, harus terus hidup melalui usaha yang berkembang, koperasi yang menguatkan anggotanya, lapangan kerja yang terbuka, dan kesejahteraan yang semakin dirasakan masyarakat. (GN-RLS)







