UAS Tak Lagi di Kertas, Mahasiswa PGSD Unisan Gorut Buktikan Kemampuan Lewat Tari dan Busana Adat

UAS Tak Lagi di Kertas, Mahasiswa PGSD Unisan Gorut Buktikan Kemampuan Lewat Tari dan Busana Adat
Foto Istimewa
banner 468x60

GONETNEWS.COM, Gorut — Jika umumnya Ujian Akhir Semester (UAS) identik dengan lembar soal dan jawaban tertulis, pemandangan berbeda justru terlihat di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Sosial dan Keguruan Universitas Ichsan (Unisan) Gorontalo Utara. Mahasiswa Semester VI menjalani UAS dengan menampilkan tarian tradisional dan busana adat daerah dalam sebuah ujian praktik yang sarat nilai budaya.

Kegiatan yang berlangsung di kampus Unisan Gorontalo Utara, Jumat (22/05/2026) lalu, itu menjadi wujud nyata pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pada upaya pelestarian budaya lokal di kalangan generasi muda.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dengan mengenakan berbagai pakaian adat dan menampilkan tarian tradisional dari sejumlah daerah, para mahasiswa tampil percaya diri di hadapan dosen penguji. Penampilan mereka tidak hanya menjadi bagian dari penilaian akademik, tetapi juga menunjukkan pemahaman terhadap kekayaan budaya yang kelak akan mereka wariskan kepada peserta didik sebagai calon guru sekolah dasar.

Mata kuliah Pembelajaran Budaya Daerah yang diampu oleh Mutmain Tangkudung sengaja dikonversi menjadi UAS praktik. Metode ini dirancang agar mahasiswa tidak sekadar memahami budaya melalui teori, tetapi juga mengalami langsung proses mengenal, mempraktikkan, dan memaknai nilai-nilai budaya daerah.

“Calon guru harus mampu menjadi agen pelestarian budaya. Karena itu, mahasiswa perlu diberikan pengalaman nyata agar kelak dapat mengajarkan budaya daerah kepada anak-anak sejak usia dini,” ujar Mutmain.

Pelaksanaan ujian tersebut berlangsung meriah dan penuh semangat. Berbagai penampilan yang disuguhkan mahasiswa mendapat apresiasi dari dosen maupun tamu yang hadir karena dinilai berhasil menghadirkan suasana pembelajaran yang kreatif, kolaboratif, dan bermakna.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Keguruan Unisan Gorontalo Utara, Noviyanti Tue, menilai kegiatan tersebut menjadi contoh bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan dalam menjaga eksistensi budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Menurutnya, pembelajaran berbasis budaya tidak hanya membentuk kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap identitas dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari karakter bangsa.

“Di tengah tantangan globalisasi, budaya daerah harus tetap hidup. Salah satu caranya adalah dengan menghadirkannya dalam proses pendidikan. Mahasiswa PGSD sebagai calon guru memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya,” katanya.

Ia berharap model pembelajaran seperti itu terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter di lingkungan kampus.

Melalui ujian praktik tersebut, mahasiswa PGSD Unisan Gorontalo Utara tidak hanya diuji kemampuan akademiknya, tetapi juga membuktikan bahwa ruang kelas dapat menjadi panggung pelestarian budaya yang efektif dan relevan bagi generasi masa depan. (GN-RLS)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *