GONETNEWS.COM, Gorontalo – Kualitas pelayanan jemaah haji dan umrah tidak cukup hanya ditopang aturan dan fasilitas, tetapi juga ditentukan oleh mentalitas aparatur yang melayani. Karena itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, meminta ASN Kementerian Haji dan Umrah di Gorontalo meninggalkan budaya kerja buruk dari institusi lama agar tidak menjadi penghambat pelayanan kepada jemaah.
Pesan tegas tersebut disampaikan Dahnil saat memberikan pembinaan kepada ASN Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Gorontalo di Gedung El Madinah, Hotel Asrama Haji Gorontalo, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Dahnil, perubahan kelembagaan dari Kementerian Agama menjadi Kementerian Haji dan Umrah tidak boleh hanya sebatas pergantian nama dan struktur organisasi. Perubahan tersebut harus diikuti dengan pergeseran mentalitas, etos kerja, serta budaya pelayanan seluruh ASN.
Ia menjelaskan, Kementerian Haji dan Umrah kini menjadi tempat berhimpunnya ASN dari berbagai latar belakang institusi. Selain berasal dari Kementerian Agama, terdapat pegawai yang sebelumnya bertugas di Kementerian Hukum, Kejaksaan, KPK, BPS, serta kementerian dan lembaga lainnya.
Kondisi serupa juga terjadi di lingkungan Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Gorontalo. Selain ASN eks Kementerian Agama, terdapat pula pegawai yang berasal dari lingkungan pemerintah daerah.
Keberagaman latar belakang tersebut, menurut Dahnil, harus menjadi modal untuk membangun budaya kerja yang lebih baik. Namun, setiap ASN dituntut mampu memilah kebiasaan yang harus dipertahankan dan praktik kerja buruk yang wajib ditinggalkan.
“Prinsip dasarnya adalah ASN harus melakukan pergeseran budaya kerja atau perubahan kebudayaan. Ketika bergabung dengan Kementerian Haji dan Umrah, budaya-budaya kerja yang jelek dari institusi lama harus ditinggalkan. Budaya yang baik tetap dibawa,” tegas Dahnil.
Ia berharap seluruh pengalaman dan nilai positif dari berbagai institusi dapat diakumulasikan menjadi kekuatan baru bagi Kementerian Haji dan Umrah.
Dengan demikian, kementerian ini tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya pegawai dari berbagai lembaga, tetapi mampu membangun identitas, karakter, dan standar kerja yang sama.
Dahnil juga mengajak seluruh ASN membangun wajah baru Kementerian Haji dan Umrah melalui penguatan integritas, kedisiplinan, serta tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Terlebih, kementerian tersebut memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji dan umrah. Karena itu, pelayanan harus mengedepankan pendekatan kekeluargaan, sehingga jemaah mendapatkan perhatian dan pendampingan yang baik.
Ia menekankan, perubahan budaya kerja harus benar-benar tercermin dalam perilaku ASN, bukan sekadar menjadi slogan dalam setiap kegiatan pembinaan.
Pembinaan di Gorontalo ini menjadi momentum bagi seluruh ASN Kementerian Haji dan Umrah untuk menyatukan komitmen, meninggalkan kebiasaan kerja yang tidak produktif, serta membangun institusi baru dengan integritas dan orientasi pelayanan kepada jemaah. (GN -01)







