Bukan Sekadar Rusak, Jembatan Tambuala Kini Mengancam Keselamatan Warga

Bukan Sekadar Rusak, Jembatan Tambuala Kini Mengancam Keselamatan Warga
Kerusakan jembatan gantung di Dusun Tambuala, Desa Datahu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, belum juga mendapat penanganan serius

GONETNEWS.COM, Kabgor  – Kerusakan jembatan gantung di Dusun Tambuala, Desa Datahu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo,  belum juga mendapat penanganan serius. Bertahun-tahun pasca diterjang banjir bandang, warga masih harus bertaruh keselamatan saat melintasi jembatan yang landasannya rapuh dan pengamannya nyaris tak tersisa.

Jembatan yang seharusnya menjadi akses utama masyarakat itu kini justru menyimpan ancaman. Pijakan kayu yang sebelumnya digunakan telah lapuk, lalu diganti dengan bambu yang disusun memanjang secara swadaya oleh warga. Ironisnya, bambu tersebut kini ikut rapuh.

Bacaan Lainnya

Warga yang melintas harus ekstra hati-hati. Salah menginjak pijakan atau kehilangan keseimbangan bisa berakibat fatal, terlebih pengaman di kedua sisi jembatan sudah rusak. Salah satu sisinya bahkan telah jatuh, sehingga warga kehilangan pegangan saat menyeberang.

Di tengah kondisi yang membahayakan itu, warga mengaku belum melihat perbaikan nyata. Padahal, jembatan tersebut menjadi akses penting untuk mengantar anak ke sekolah, menuju puskesmas, hingga mencapai jalan raya.

Novi, salah seorang warga setempat, mengatakan kerusakan jembatan sudah berlangsung lama sejak diterjang banjir bandang. Namun, hingga kini masyarakat masih harus menghadapi dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

“Sudah ada beberapa pejabat dan anggota dewan yang datang. Mereka hanya datang memfoto, lalu pergi. Sampai sekarang belum juga ada perbaikan, hanya janji,” ungkap Novi dengan nada kecewa, Jumat (09/10/2026).

Pernyataan itu menggambarkan kekecewaan warga yang merasa persoalan mereka sebatas menjadi objek kunjungan, tanpa diikuti penyelesaian yang dibutuhkan.

Dampak kerusakan jembatan bukan perkara sepele. Warga yang sebelumnya hanya membutuhkan beberapa menit untuk mencapai jalan raya kini harus memutar dengan jarak lebih dari satu kilometer.

Jika menggunakan jasa ojek atau bentor, mereka harus mengeluarkan biaya Rp20 ribu hingga Rp30 ribu untuk mencapai jalan raya atau tempat tujuan. Pengeluaran itu menjadi beban tambahan, terutama bagi warga yang harus bepergian secara rutin.

Lebih memprihatinkan, akses tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Anak-anak harus bersekolah, warga yang sakit perlu menjangkau puskesmas, sementara aktivitas ekonomi tidak bisa terus menunggu hingga jembatan diperbaiki.

Jembatan gantung Tambuala juga memiliki fungsi lebih luas karena menghubungkan tiga desa sekaligus, yakni Isimu Raya, Botumoputih, dan Datahu. Artinya, kerusakan ini tidak hanya menyulitkan warga di satu dusun, tetapi juga berdampak pada mobilitas masyarakat lintas desa.

Kondisi tersebut semestinya menjadi alasan kuat bagi pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengambil tindakan. Sebab, menunggu hingga terjadi kecelakaan bukanlah pilihan yang seharusnya diambil dalam menangani infrastruktur yang jelas-jelas membahayakan keselamatan warga.

Masyarakat Tambuala kini menanti lebih dari sekadar kedatangan pejabat, dokumentasi kondisi lapangan, atau janji perbaikan. Mereka membutuhkan kepastian kapan jembatan itu akan diperbaiki agar dapat kembali digunakan dengan aman.

Jangan sampai jembatan baru mendapat perhatian serius setelah ada warga yang menjadi korban. Bagi warga Tambuala, perbaikan jembatan bukan lagi sekadar harapan, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut keselamatan dan kehidupan sehari-hari. (GN-01)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *